SEKILAS TENTANG UANG PANAI

uang panai atau Mahar dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, seperti kita ketahui akhir-akhir ini fenomena uang panai menjamur di tengah masyarakat. Terlebih lagi setelah sebuah karya sineas lokal Makassar mengangkat fenomena uang panai ini  tayang di layar  lebar dengan judul Uang Panai Maha(L)r. 

budaya pernikahan yang ada  masyarakat Sulawesi Selatan merupakan nilai-nilai yang tak lepas untuk dipertimbangkan dalam pernikahan seperti status sosial, ekonomi, dan nilai-nilai budaya dari masing-masing keluarga pria dan wanita. Di Sulawesi Selatan, satu hal yang menjadi khas dalam pernikahan yang akan diadakan yaitu uang naik atau sering disebut uang panai’. Pada pernikahan di suku bugis dan makassar sebagian orang sangat memberatkan. Mengingat besarnya jumlah uang panai atau uang belanja yang di bebankan oleh memperai wanita bagi pihak mempelai pria yang harus di bayarkan. seharusnya bukanlah  mahar  yang dipersoalkan namun hakikatnya nikah bugis dan makassar adalah mempertemukan dua keluarga besar dengan segala identitas dan status sosial. Selain itu juga sebagai melestarikan garis silsilah di masyarakat.  yang terjadi di masyarakat bugis-makassar bila uang panai yang di bebakan oleh mempelai wanita tak sanggup di penuhi oleh mempelai pria. Terkadang  kedua pasangan calon pengantin yang dimabuk cinta memilih melakukan ‘Silariang” bila di artikan kedalam bahasa indonesia berati kawin lari agar tetap bersama.

Defenisi uang panai itu sendiri
Uang Panai' dalam tadisi Bugis Makassar merupakan merupakan sejumlah uang yang diberikan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita sebagai sebuah penghargaan dan realitas penghormatan terhadap norma dan strata sosial. Bagi pria lokal atau yang juga berasal dari Suku Bugis Makassar, memenuhi jumlah Uang Panai' di pandang sebagai budaya siri', jadi perempuan yang benar-benar dicintainya merupakan motivasi untuk memenuhi jumlah uang Panai' sebagai simbol akan ketulusannya untuk meminang sang Gadis. 

Uang Panai' untuk menikahi Gadis Bugis Makassar terkenal tidak sedikit jumlahnya tergantung pada tingkat strata sosial dan pendidikan dari sang gadis yang akan dilamarnya, pengambilan keputusan akan besarnya Uang Panai'terkadang dipengaruhi oleh keputusan keluarga perempuan (Saudara ayah ataupun saudara Ibu) oleh karena besarnya Uang Panai'.

Uang puluhan juta atau bahkan sampai pada ratusan juta menjadi nominal yang lumrah, terlebih lagi jika calon mempelai perempuan adalah keturunan darah biru (punya gelar adat, seperti karaeng, andi, opu, puang, dan petta) ataupun tingkat pendidikan calon mempelai perempuan adalah S1, S2, PNS, haji,dll maka uang panai’-nya akan berpuluh-puluh sampai beratus-ratus juta.  Semakin tinggi nominal uang panai maka semakin tinggi pula citra diri keluarga mempelai di mata masyarakat. Itu fakta yang terjadi kalangan masyarakat bugis- makassar

Jika jumlah uang naik yang diminta mampu dipenuhi oleh calon mempelai pria, hal tersebut akan menjadi prestise (kehormatan) bagi pihak keluarga perempuan. Kehormatan yang dimaksudkan disini adalah rasa penghargaan yang diberikan oleh pihak calon mempelai pria kepada wanita yang ingin dinikahinya dengan memberikan pesta yang megah untuk pernikahannya melalui uang panai’ tersebut.

Sejarah  uang panai itu sendiri 
Sebuah sumber menyebutkan bahwa asal muasal uang panai adalah karena apa yang terjadi pada zaman penjajahan Belanda dulu. Belanda seenaknya menikahi perempuan Bugis Makassar yang ia inginkan, setelah menikah ia kembali menikahi perempuan lain dan meninggalkan istrinya itu karena melihat perempuan Bugis Makassar lain yang lebih cantik daripada istrinya. Budaya seperti itu membekas di Bugis Makassar setelah Indonesia Merdeka dan menjadi doktrin bagi laki-laki sehingga mereka juga dengan bebas menikah lalu meninggalkan perempuan yang telah dinikahinya seenaknya. Itu membuat perempuan Bugis Makassar seolah-olah tidak berarti. 

Budaya itu berubah sejak seorang laki-laki mencoba menikahi seorang perempuan dari keluarga bangsawan. Pihak keluarga tentu saja menolak karena mereka beranggapan bahwa laki-laki itu merendakan mereka karena melamar anak mereka tanpa keseriusan sama sekali. Mereka khawatir nasib anak mereka akan sama dengan perempuan yang lainnnya sehingga pihak keluarga meminta bukti keseriusan pada laki-laki atas niatannnya datang melamar. Jadi pada saat itu orangtua si gadis ini mengisyaratkan kepada sang pemuda kalau ia ingin menikahi anak gadisnya dia harus menyediakan mahar yang telah ditentukannya. mahar yang diajukan sangatlah berat sang pemuda harus menyediakan material maupun non material. hal ini dilakukannya untuk menganggat derajat kaum wanita pada saat itu. Pergilah sang pemuda itu mencari persyaratan yang diajukan oleh orangtua si gadis. Bertahun-tahun merantau mencari mahar demi pujaan hatinya ia rela melakukan apa saja asalkan apa yang dilakukannya dapat menghasilkan tabungan untuk meminang gadis pujaannya. setelah mencukupi persyaratan yang diajukan oleh orang tua si gadis sang pemuda pun kembali meminang gadis pujaannya dan pada saat itu melihat kesungguhan hati sang pemuda orangtua si gadis merelakan anaknya menjadi milik sang pemuda tersebut. 

Adanya persyaratan yang diajukan memeberikannya sebuah pelajaran yakni menghargai wanita karena wanita memang sangat mahal untuk disakiti apalagi sang pemuda itu mendapatkan istrinya dari hasil jeri payahnya sendiri itulah sebabnya ia begitu menyanyangi istrinya. Jadi mahalnya mahar gadis Bugis-Makassar bukan seperti barang yang diperjual belikan, tapi sebagai bentuk penghargaan kepada sang wanita, jadi ketika tersirat dihati ingin bercerai dan menikah lagi maka sang pemuda akan berpikir berkali-kali untuk melakukannya karena begitu sulitnya ia mendapatkan si gadis ini. 

Makna daripada Uang Panai itu sendiri 
Setelah mengetahui sejarah uang panai’, akankah kita masih menganggap bahwa uang panai itu merepotkan bagi laki-laki. Kalau menurut saya sebagai perempuan Makassar, uang panai adalah salah satu motivasi bagi laki-laki dan bukti keseriusannnya. Ketika laki-laki memang serius mau melamar maka ia akan mencari cara untuk mendapatkan uang panai, tentunya setelah ia berani datang berkunjung ke rumah kedua orang tua perempuan yang ia cintai. Saya rasa uang panai adalah suatu kesepakatan antara keluarga laki-laki dan perempuan. Jadi tidak ada alasan bagi laki-laki Makassar untuk tidak memenuhi. Saya rasa budaya siri’ akan membuat laki-laki rela berusaha untuk memenuhi berapapun jumlah uang panai yang ditrentukan. InsyaAllah ada jalan dari Allah….. Marilah memaknai uang panai dengan aura postif bahwa itu adalah cara orang terdahulu Makassar untuk membuktikan keseriusan sang laki-laki untuk melamar. Dan bagi mereka yang silariang, disitu bisa sama-sama kita lihat bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak serius memandang pernikahan sebagai sesuatu yang penuh perhitungan, penuh tanggungjawab dan penuh kesabaran. Perempuan sabar untuk dilamar dan laki-laki sabar mengumpulkan uang untuk datang melamar. 

Demikian pembahasan singkat penulis mengenai uang panai (mahar) yang ada di masyarakat bugis – makassar. Semoga pembahasan ini menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang budaya “Uang Panai” yang ada di Sulawesi Selatan. Indonesia Sangat Kaya akan Budaya termasuk yang ada di sulawesi selatan.  Nantikan pembahasan-pembahasan kami selanjutnya.!

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url